News tricker
Penguatan Kesejahteraan Umat Berbasis Syariah

Penguatan Kesejahteraan Umat Berbasis Syariah

Oleh: Aunur Rofiq *)

Pembangunan ekonomi yang kita laksanakan secara bertahap dari waktu ke waktu sudah berhasil memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Namun tidak dapat di pungkiri bahwa masih ada yang harus diperbaiki karena tingkat kesejahteraan masyarakat yang masih rendah, masih menjadi bagian terbesar dari kehidupan bangsa kita. Hal ini semakin menyadarkan kita bahwa pembangunan, yang sejatinya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, harus diarahkan pada upaya lebih serius mewujudkan penguatan ekonomi umat.

Penguatan ekonomi umat adalah sebuah keharusan, karena Islam sangat menghargai semangat meraih prestasi melalui kerja keras dalam mewujudkan kesejahteraan. Kemiskinan yang mendera umat bisa mendorong pada kekufuran, seperti mendorong lemahnya akal budi, munculnya kekerasan serta mendorong tindak kejahatan. Sebaliknya Islam justru mendorong terwujudnya kesejahteraan umat, yang ditunjukkan oleh banyaknya sahabat Rasululullah yang berjiwa wirausaha dan kaya. Dengan kekayaan bisa beramal saleh dan kita sebagai generasi Islam juga tidak boleh mewariskan kemiskinan pada generasi setelah kita.

Meski demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kemiskinan dalam masyarakat kita merupakan masalah besar yang harus diatasi. Kemiskinan yang timbul dalam masyarakat, setidaknya bisa disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya adalah kehidupan ekonomi kita yang timpang yang dihasilkan oleh kebijakan ekonomi yang tidak Islami, di mana munculnya kekuatan kekuatan ekonomi yang tidak sepenuhnya mampu menciptakan keadilan. Bahkan mereka mengeksploitasi rakyat dan sumber daya alam dan lingkungan. Ekonomi yang berjalan juga tidak sesuai syariah atau tidak berkah. Akibatnya ada pihak yang dirugikan dan ada pihak yang diuntungkan. Padahal pembangunan ekonomi adalah untuk mewujudkan kemakmuran bersama. Kita juga menyaksikan perdagangan masih mencampurkan halal dan haram menjadi sesuatu yang samar. Pada sisi lain ada peraturan dan kebijakan yang tidak adil dan diskriminatif dalam mewujudkan kemakmuran antar warga masyarakat.

Selain itu, dari sisi kultural masih banyak sumber daya umat yang rendah baik dari sisi pengetahuan, keterampilan dan wawasan atau cara pandang. Cara pandang umat terhadap semangat kerja keras meraih prestasi ekonomi, belum menjadi sebuah mainstream. Bahkan semangat kerja keras meraih prestasi ekonomi seolah sebagai sesuatu yang buruk karena terlalu berorientasi pada dunia atau tidak sesuai anjuran agama. Padahal sesungguhnya Islam sangat mendorong umatnya untuk bekerja keras untuk bisa hidup sejahtera di dunia. Kesalahan cara pandang tersebut justru menimbulkan sebuah bentuk kemalasan atau rendahnya etos kerja serta rendahnya jiwa kewirausahaan di kalangan umat Islam. Akhirnya umat Islam sendiri yang rugi.

Kita sekarang menyadari bahwa sistem ekonomi barat,ternyata tidak sesempurna seperti yang kita duga sebelumnya.Bangsa kita memerlukan pendekatan-pendekatan pembangunan ekonomi baru yang mampu menjawab kekurangan yang ada dalam sistem ekonomi kita. Prakarsa masyarakat dalam rangka memperkuat ekonomi umat sangat penting karena masyarakat miskin yang jumlahnya masih banyak, memerlukan kebijakan dan dukungan dari berbagai berpihak.

Pemikiran tentang upaya pengentasan kemiskinan sudah banyak dan bahkan juga sebagian sudah dicobakan. Di antara sekian banyak pendekatan, yang sekiranya relevan dan bisa dijadikan alternatif pemecahan meningkatkan kesejahteraan umat adalah membangun fondasi ekonomi syariah yang kuat. Untuk itu, kita harus terus mengembangkan sistem keuangan mikro yang baik, utamanya yang berbasiskan Islam.

Sistem keuangan mikro yang baik, yang didukung oleh jumlah penduduk muslim yang besar, akan membuat Indonesia tumbuh menjadi kekuatan ekonomi dalam gerakan pemberantasan kemiskinan berbasis ajaran Islam. Kita harus memanfaatkan secara optimal potensi yang kita miliki ini di antaranya melalui:

Pertama, membangun model pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat. Maksudnya adalah kekuatan dan kebijakan pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh masyarakat setempat, misalnya pada tingkat sebuah desa atau kelurahan. Prakarsa dimulai melalui kekuatan sosial masyarakat setempat, seperti ulama/kiai, tokoh masyarakat dan birokrasi desa dan pengsuaha lokal, dengan duduk bersama dan bersatu padu mencari solusi bersama mengatasi kemiskinan.

Solusi yang bisa ditawarkan adalah mewajibkan agar semua kaum muslimin yang mampu, pada setiap tahun, melalui sistem membayar zakat, baik zakat (fitrah atau pertanian dan dagang) maupun sedekah amal, digunakan baik untuk kepentingan yang bersifat produktif maupun yang bersifat konsumtif. Untuk kepentingan produktif misalnya, dari hasil pengumpulan dana itu digunakan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan modal usaha. Sementara itu, yang bersifat konsumtif, diberikan kepada keluarga miskin yang memang sudah tidak mampu berusaha. Konsep sederhana ini bisa diimplementasikan di berbagai tempat, dalam kerangka penguatan ekonomi umat melalui kekuatan sosial masyarakat. Hasil pengumpulan dana masyarakat yg bersifat produktif akan lebih baik dalam bentuk BMT, karena lembaga ini betul-betul dekat dengan masyarakat.

Kedua, penguatan ekonomi ummat berbasis masjid, sekolah Islam dan pesantren hingga majelis taklim. Urgensi penguatan ekonomi umat di perdesaan, di mana lembaga pendidikan Islam terutama sekolah Islam, pesantren dan masjid menjadi titik sasaran penguatan.

Jika misalnya setiap masjid terdapat koperasi syariah, atau paling tidak terdapat wadah yang dapat pendukung pertumbuhan perekonomian umat, maka dampaknya terhadap pengurangan kemiskinan dan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional akan amat signifikan.

Ketiga, mendekatkan lembaga keuangan mikro syariah seperti BPR syariah dan keuangan mikro lainnya sesuai syariah kepada lapisan masyarakat bawah atau umat. Akses umat terhadap lembaga keuangan akan memudahkan masyarakat untuk melakukan kegiatan produktif yang selama ini terkendala masalah pembiayaan.

Hingga kini akses masyarakat kecil terhadap lembaga keuangan masih kecil, karena lembaga keuangan biasanya masih beroperasi pada tingkat kecamatan, belum sepenuhnya menjangkau tingkat desa. Masyarakat juga masih enggan berhubungan dengan lembaga keuangan, karena terkendala dengan prosedur dan persyaratan yang masih dirasakan berat oleh masyarakat kecil.

Keempat, memperkuat khasanah instrumen keuangan Islam, terutama wakaf (selain zakat, infaq, dan sadaqah), untuk dijadikan instrumen penguatan yang perlu dioptimalisasikan dalam upaya penguatan ekonomi umat.

*) Ketua PHP Parmusi dan praktisi bisnis.

 

Komentar

Tuliskan komentar anda dengan mengisi kolom dibawah *

*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates