News tricker
Ketum Parmusi: Kita Jangan Alergi Terhadap Syariat Islam
Ketua Umum PP Parmusi, Usamah Hisyam.

Ketum Parmusi: Kita Jangan Alergi Terhadap Syariat Islam

Tangsel, Parmusinews.com – Ketua Umum Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP Parmusi), H Usamah Hisyam, mengingatkan setiap muslim untuk  meneladani ketaatan dan pengorbanan yang dilakukan Nabiyullah Ibrahim AS dan Ismail. Dimana Nabi Ibrahim telah menunjukkan kesetiaan yang tulus dengan mengorbankan puteranya untuk berbakti melaksanakan perintah Allah.

“Sedangkan Ismail tidak sedikit pun ragu atau bimbang dalam memperagakan kebaktiannya kepada Allah dan kepada orangtuanya. Dia menyerahkan jiwa raganya untuk dikorbankan. Baik Nabi Ibrahim maupun Ismaili telah lulus dalam ujian yang sangat berat,” tegas Usamah dalam khutbah Idul Adha di lapangan Masjid Asy-Syarif Al-Azhar Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Jumat (1/9/2017).

Dalam konteks kekinian, imbuh Ketua Umum Yayasan Kerukunan Keluarga Muslim BSD (KKMB) ini, ketaatan dan pengorbanan untuk meningkatkan ketakwaaan kepada Allah SWT haruslah menjadi karakter setiap muslim. Karakter yang melekat dalam sanubari, pikiran, dan perilaku. Itulah takwa yang sebenar-benarnya.

Aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari, menurut Usamah, ketaatan dan pengorbanan kepada Allah SWT harus bersumber dari dua pedoman umat Islam, yakni Al-Quran sebagai kitab suci sekaligus pedoman hidup umat Islam juga Sunnah Rasulullah SAW.

“Firman-firman Allah di dalamnya harus diyakini bersama tak perlu ada sedikitpun yang diragukan,” tandasnya sambil menyitir Surah Al-Baqarah ayat 2.

Karena berdasarkan dua pedoman tersebut, lanjut Usamah, maka umat Islam tidak sepatutnya alergi mendengar ajakan untuk menjalankan syariat Islam. Apalagi syariat Islam merupakan hukum yang wajib dilakukan sekaligus jalan untuk mencapai ketaatan dan pengorbanan kepada Allah agar kelak bisa bertemu Allah di surga.

Usamah menegaskan, dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, setiap muslim harus bisa memisahkan antara hak dan kewajiban sebagai anak bangsa dan juga hak kewajiban sebagai umat Islam.

“Sebagai anak bangsa dalam tata kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, kita memang terikat pada falsafah dasar Negara, yaitu Pancasila dan konstitusi UUD 1945. Sebagai anak bangsa, sejak lahir kita berada di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang sejak awal kemerdekaan telah memiliki konsensus nasional, yaitu berkhidmat dalam sistem ketatanegaraan yang dilandasi oleh Pancasila dan UUD 1945,” tutur Usamah yang juga merupakan sekretaris nasional Gerakan Indonesia Sholat Subuh (GISS) tersebut.

Usamah menjelaskan bahwa salah satu konsensus nasional adalah sila pertama Pancasila, yakni ideologi Ketuhanan Yang Maha Esa yang merupakan kalimat tauhid bahwa tiada Tuhan selain Allah. Ketuhanan Yang Maha Esa menjiwai empat sila lainnya.

Bahkan UUD 1945 Pasal 29 ayat (1) menegaskan bahwa negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan ayat (2) menegaskan bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

“Artinya apa? Sebagai umat Islam, kita memiliki kebebasan untuk melaksanakan nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila termasuk Ketuhanan Yang Maha Esa. Nilai-nilai yang amat sakral bagi umat Islam dalam menegakkan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah pelaksanaan nilai-nilai syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Karena nilai-nilai tersebut akan kita pertanggungjawabkan langsung ketaatan dan pengorbanannya kepada Allah SWT,” paparnya.

Melihat alasan itu, lanjut Usamah, maka syariat Islam tidak perlu dipertentangkan dengan Pancasila, UUD 1945, apalagi NKRI. Syariat Islam merupakan ruh dari sila pertama Pancasila. Karena syariat Islam adalah jalan bagi umat Islam untuk mencapai ketaatan dan pengorbanan kepada Allah SWT.

Sedangkan Pancasila dan UUD 1945 adalah jalan bagi anak bangsa untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam wilayah kedaulatan NKRI untuk mencapai cita-cita tujuan nasional.

“Dalam konteks itulah Islam telah mengajarkan kepada pemeluknya agar tetap dapat melaksanakan ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim), ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia), dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa). Sebagai muslim maupun sebagai anak bangsa, marilah kita tetap saling harga menghargai dalam kehidupan antar umat beragama,” tutupnya. (Fath)

Komentar

Tuliskan komentar anda dengan mengisi kolom dibawah *

*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates